Sabtu, 29 Januari 2022

Ngramanin

Kata "ngramanin" (Bahasa Bali) bisa dipadankan dengan kata "sekadar", bahkan "sekadarnya", dalam Bahasa Indonesia. Orang yang "ngramanin" melakukan sesuatu tidak dengan bersungguh-sungguh, tidak berdasarkan niat yang tulus, cenderung hanya agar tampak di ruang itu untuk memenuhi kewajiban atau tujuan tertentu atau agar tidak ketinggalan saja.

Sebagai contoh pemakaian seperti "teka ngramanin" hadir sekadar hadir, "ngramanin teka" sekadar hadir, "magaé ngramanin" bekerja sekadar bekerja, "ngramanin ngenah" sekadar tampak.

"Ngramanin" tidak bisa dipadankan dengan "ngraménin", "sakuala", atau "gamana".*&*

Komang Berata

Picah dan Pingseg

Kosakata "picah" belum tercantum dalam Kamus Bahasa Bali - Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali , sedangkan kosakata "pisah" dan "pingseg" sudah tercantum.

Padanan kata "picah" dalam bahasa Indonesia adalah gencet, dengan catatan tambahan yang mengikutinya yaitu gencet hingga pecah dengan menggunakan satu atau dua kuku. Bagian permukaan luar ujung jari yang berperan dalam "picah".

Yang menjadi korban "picah" adalah binatang kecil seperti kutu, "gadgad" (gurem), "tuma" (kutu di pakaian), "titih" (kepinding), "tungu" (tungau), juga "klimpit" dan "ketekulan" (kutu parasit yang biasanya hidup menempel pada ayam, anjing,kucing).

Membunuh binatang kecil seperti semut atau nyamuk tidaklah di-"picah" tetapi digencet dengan permukaan bagian dalam ujung jari, bahkan diremas jika dalam jumlah banyak.

Kata "pingseg"(Bahasa Bali) serupa dengan "picah", hanya saja pengertian "pingseg" lebih luas. Mencubit paha anak dengan sangat keras, karena diikuti dengan perasaan marah, disebut dengan "mingseg". "Pingseg" bisa menggunakan satu atau dua permukaan ujung luar jari, bisa juga menggunakan dua permukaan dalam ujung jari.*&*

Komang Berata